MOVIE REVIEW: And Your Bird Can Sing (2018)


Masih dalam rangka kejar tayang nontonin film-film di JFF+ Independent Cinema 2023 mumpung online festivalnya masih jalan sampe 31 Oktober 2023 nanti, kalo beberapa hari lalu gue nonton “A Girl in My Room,” yang slow, manis, dan sederhana, kali ini gue nonton film soal masa muda yang agak lebih kompleks dikit tapi tetep bikin merenung. Mungkin merenungnya lebih karena mikirin… kenapa ya keputusan karakter utamanya begitu? Wkwkwk. Aku yang sudah otw 40 tahun ini udah nggak bisa relate sama betapa “santai”nya dua karakter cowok utama di film And Your Bird Can Sing ini… Anyway, yang mau gue ulas singkat di sini tuh bukan spoiler ya, emang kalo lo Google, lo akan tahu premis cerita film ini apa.

Jadi ceritanya ada seorang cowok (yang namanya nggak dikasih tau di film ini, cuma disebut “Me” di credit roll) yang kerja part-time di sebuah toko buku. Terus dia tertarik sama cewek koleganya di toko buku ini, namanya Sachiko (dan ceweknya juga keliatan banget tertarik sama dia).

“Me,” si cowok tanpa ambisi

Cuma tuh apa yah… si cowok ini tuh santaaaiii banget idupnya, dan ini dia lakukan dalam segala sisi hidupnya. Di saat di kerjaan dia bisa full time dan bisa lebih ambi, dia santai. Ada masalah di kerjaan? Santai. Ada cewek ngejar dia? Santai. Ceweknya akhirnya beneran deket dan mau sama dia… dia juga tetep santai.

Sachiko

Kalo kalian mengira poster di atas adalah cerita tentang cinta segi tiga, bisa dibilang emang begitu, Kak. Cuma subtle ditunjukkinnya. Gimana bisa segi tiga? Jadi si “Me” ini punya roommate bernama Shizuo, cowok imut cakep berwajah imut yang baik hati tapi juga nggak kerja… doi punya isu sama keluarga dan idupnya dan idupnya juga lagi-lagi gitu, santai…

Shizuo

Dua cowok ini tinggal bareng dan yah seperti yang bisa ditebak, berujung naksir cewek yang sama, si Sachiko. Cuma si “Me” yang idupnya nggak ada ambisi ini ya sante bae aja gebetannya ditaksir roommatenya.

Nah, gue berhenti cerita deh di sini supaya nggak spoiler, tapi yang jelas, yang gue suka dari film ini adalah akting pemain-pemainnya menurut gue oke-oke banget. Mereka bisa menunjukkan range emosi dengan sangat subtle, lewat mikro ekspresi. Nggak butuh grand gesture, cukup dengan gimana cara mereka bawa diri dan ngomong aja kita sebagai penonton (paling nggak gue) bisa ngerasain ada emosi atau tension apa yang lagi terjadi. Biarpun pace-nya lambat, gue menikmati jalannya film ini dan somehow jadi nebak-nebak juga ujung ceritanya gimana.

Sesuai dengan narasi “Me” di awal, di mana latar musim di kota itu (Hakodate, Hokkaido) lagi musim panas, si “Me” bilang kalau dia ngerasa “musim panas tuh akan selalu berlangsung selamanya,” dan ini yang gue tangkep jadi tema film dan karakter si “Me”: youth, summer, chillin’ and season of… irresponsibilities? In real life, whether you deny it or accept it, season and things will change, life will keep on going. Of course there are times we could explore our youth, make mistakes, be immature, but at some points… we have to step up an deal with reality and responsibilities?

Nah, di film ini kita bisa liat gambaran kalimat di atas dengan nyata, mana yang “ketinggalan” dan nggak bisa move on dari summer alias selaw banget idupnya dan mana yang sat set.

Film ini seperti yang udah gue bilang pace-nya lambat tapi suprisingly enjoyable. Paling nggak untuk gue, yah. Gambar-gambarnya cantik banget, terutama scene di club. Filmnya serasa intisari betapa masa muda dan “musim panas” itu menyenangkan banget, nggak banyak mikir, bahkan nggak mikirin apa-apa. Tapi pas hari udah terang dan keluar club ya balik lagi sama kenyataan idup dan balik lagi sama perasaan-perasaan “kosong” dan bosen, wkwkwk…

Akhir kata, selamat nonton, guys. If you need a reminder or a nostalgia of our transition phase from young adult life to real adulthood, to the decisions we regretted we didn’t make, to stuff we avoided so much until we had no choice than to deal with it, and to those periods when we finally decided we didn’t want to live in mess and entanglement, this movie might be for you.

SELAMAT NONTON, GUYS!

One response to “MOVIE REVIEW: And Your Bird Can Sing (2018)”

  1. Mas roommate versi terawat dr reza arap

Leave a comment